GfG9TpY5BSMpGSA7GUY0BSMoBY==

Slider

LC Paling Aman di Dunia yang disetujui Istri Sendiri


Ali sudah cukup lama bekerja untuk memahami satu hal yang tidak pernah tertulis di kontrak. 

Ada pekerjaan yang tidak tercantum di jobdesk, tapi justru menentukan masa depan perusahaan. Salah satunya adalah menemani atasan menjamu tamu.

Awalnya sederhana. Makan malam, ngobrol, saling bertukar kartu nama, lalu pulang dengan perasaan bahwa semuanya berjalan baik. Tapi semakin lama, Ali mulai paham bahwa kata “menjamu” itu punya banyak level. 

Dan malam itu, sejak atasannya menepuk bahunya sambil berkata, “Li, nanti malam ikut ya,” Ali sudah bisa menebak ke mana arah cerita ini akan berjalan.

Makan malamnya sendiri tidak ada masalah. Bahkan bisa dibilang nyaman. Tamu yang datang cukup ramah, pembicaraan mengalir, dan Ali masih bisa menjadi dirinya sendiri.

Ia tertawa di saat yang tepat, menyela dengan kalimat yang cukup cerdas tanpa terlihat berusaha terlalu keras. Semua terasa seperti pekerjaan profesional yang masih bisa dia kendalikan.

Sampai akhirnya, setelah piring terakhir diangkat dan obrolan mulai melambat, atasannya berdiri lebih dulu, menatap tamu dengan senyum yang seolah sudah disepakati tanpa perlu dijelaskan.

“Kita ke atas saja,” katanya ringan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi Ali terasa seperti pintu yang perlahan terbuka ke situasi yang tidak sepenuhnya dia inginkan, tapi juga tidak bisa dia tolak.

Dia berdiri, merapikan bajunya, dan mengikuti langkah mereka dengan perasaan yang mulai tidak setenang beberapa menit yang lalu.

Ruang karaoke itu jauh dari bayangan Ali tentang tempat bernyanyi biasa. Lampunya redup, sofanya empuk, dan suasananya terlalu nyaman untuk disebut tempat kerja. 

Ada aroma parfum yang samar bercampur dengan suara musik yang belum benar-benar dimulai. Ali duduk di ujung, mencoba mencari posisi yang paling netral. Tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak terlihat ingin menghilang.

Ketika pintu terbuka dan beberapa perempuan masuk, Ali tidak terkejut. Dia hanya menarik napas sedikit lebih dalam, lalu menunduk seolah daftar lagu di tangannya menjadi hal yang paling penting saat itu.

“Pilih, Li,” suara atasannya terdengar santai, hampir seperti bercanda.

Ali mengangkat wajah, tersenyum tipis. Senyum yang dia pakai saat tidak punya banyak pilihan tapi tetap harus terlihat punya kendali.

Dalam hitungan detik, tanpa rencana yang jelas, dia berkata, “Sudah ada, Pak.”

Atasannya mengangguk, bahkan terlihat sedikit terkesan. “Wah, siap. Langganan berarti.”

Ali ikut mengangguk, meskipun di dalam kepalanya sendiri, dia belum tahu siapa yang akan datang, atau bagaimana dia akan menjelaskan kebohongan kecil yang baru saja dia buat.

Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Lagu pertama diputar, tamu mulai menikmati suasana, dan 

Ali berusaha terlihat biasa saja, meskipun pikirannya terus bekerja mencari kemungkinan yang bahkan dia sendiri tidak yakin akan terjadi.

Lalu pintu itu terbuka lagi.

Seorang perempuan masuk. Tidak banyak bicara, tidak memperkenalkan diri, tidak juga terlihat ragu. Dia berjalan dengan tenang, seolah sudah tahu ke mana harus pergi, lalu langsung duduk di samping Ali. 

Dekat. Terlalu dekat untuk disebut kebetulan, tapi cukup natural untuk tidak menimbulkan pertanyaan.

Ali menoleh.

Dan di detik itu juga, dia sadar bahwa malam ini tidak akan berjalan seperti yang dia bayangkan, tapi entah kenapa justru terasa lebih mudah untuk dijalani.

Ruang karaoke itu mulai hidup pelan-pelan. Lagu pertama diputar, tamu mulai lebih santai, dan suasana yang tadinya formal berubah jadi lebih cair. 

Ali masih duduk dengan posisi aman, sampai perempuan di sampingnya sedikit mencondongkan badan.

“Mas, biasanya nyanyi lagu apa?” tanyanya pelan.

Ali menoleh sebentar, lalu menjawab hati-hati, “Tergantung… yang penting nadanya nggak mempermalukan diri sendiri.”

Perempuan itu tersenyum tipis. “Oh, berarti sering ya.”

Ali hampir tersedak, tapi cepat menahan ekspresi.

Di seberang, atasannya tertawa kecil melihat interaksi itu. “Wah, sudah kenal luar dalam kayaknya.”

Ali mengangguk seadanya. “Iya, Pak… sudah sering… latihan.”

Perempuan di sampingnya langsung menimpali, “Iya, Mas ini kalau salah nada, biasanya langsung berhenti sendiri.”

Ali menoleh cepat. “Eh?”

Dia balas menatap dengan santai. “Katanya nggak mau maksa kalau nggak pas.”

Tamu ikut tertawa. “Bagus itu, tahu diri.”

Ali hanya bisa tersenyum, sambil mulai sadar bahwa malam ini dia bukan satu-satunya yang sedang improvisasi.

Beberapa menit kemudian, giliran Ali diminta nyanyi.

“Li, satu lagu dong,” kata atasannya.

Ali menarik napas. “Siap, Pak.”

Belum sempat berdiri, perempuan di sampingnya langsung menyela, “Mas, yang kemarin aja.”

Ali membeku setengah detik. “Yang mana?”

Perempuan itu berpikir sejenak, lalu menjawab santai, “Yang kamu bilang… nadanya aman buat kamu.”

Atasan Ali langsung tertawa. “Wah, sampai tahu batas kemampuan.”

Ali berdiri sambil mengangguk kecil. “Iya, Pak… ini yang… paling jujur.”

Saat Ali mulai nyanyi, suaranya sebenarnya tidak buruk. Tidak istimewa, tapi cukup aman.

Dari sofa, perempuan itu bertepuk tangan kecil.

“Mas, kamu kalau nyanyi serius ya.”

Ali melirik sebentar. “Ini lagi kerja.”

“Loh, kirain dari tadi juga,” jawabnya cepat.

Tamu kembali tertawa. Atasan Ali bahkan mulai terlihat benar-benar menikmati suasana.

Ali duduk lagi setelah selesai.

Perempuan itu mendekat sedikit. “Mas, kamu deg-degan ya tadi?”

Ali menjawab pelan, “Lumayan.”

“Tenang,” katanya sambil tersenyum, “aku juga.”

Ali menoleh.

Mereka sempat saling pandang.

Lalu sama-sama menahan tawa.

Di sudut lain, atasannya berbisik ke tamu, cukup keras untuk masih terdengar.

“Ini yang begini nih enak. Sudah klop.”

Ali pura-pura tidak dengar. Tapi dalam hati, dia mengakui satu hal.

Ini mungkin situasi paling tidak nyaman yang pernah dia jalani.

Tapi entah kenapa… juga yang paling aman.


Acaranya sendiri tidak berlangsung lama. Tamu terlihat puas, atasannya tampak lega, dan suasana berakhir tanpa drama yang berarti.

“Kamarnya sudah disiapkan,” kata atasannya sambil berdiri. “Kalian istirahat saja.”

Ali mengangguk. Perempuan di sampingnya ikut berdiri, masih dengan sikap yang sama. Tenang, rapi, seolah tidak ada yang perlu dijelaskan.

Mereka berjalan keluar tanpa banyak bicara.

Sampai akhirnya pintu kamar hotel tertutup.

Dunia kembali terang. Tidak ada musik, tidak ada peran. Hanya ada dua orang yang sejak tadi menahan sesuatu.

Mereka saling pandang sebentar.

Lalu semuanya pecah.

“HAHAHAHA!”

Ali langsung jatuh duduk di tepi kasur sambil memegangi perutnya. Tawa yang sejak tadi dia tahan akhirnya keluar tanpa sisa.

“Ini gila sih, May. Serius.”

Perempuan itu melepas heels-nya dan ikut duduk, masih tertawa.

“Bang, muka kamu tadi serius banget. Aku sampai takut kamu lupa ini aku.”

Ali menirukan ekspresinya sendiri tadi. Duduk kaku, wajah tegang, seperti orang yang salah masuk ruangan tapi tidak tahu cara keluar.

“Mas, mau nyanyi apa,” tirunya pelan.

Maya langsung melempar bantal ke arahnya. “Eh, itu aku lagi kerja ya tadi.”

Ali makin tertawa. “Kerja dari akad ya.”

“Langganan resmi,” jawab Maya cepat.

Mereka kembali tertawa. Kali ini lebih pelan, tapi justru lebih dalam. Tawa orang yang baru saja lolos dari situasi yang sebenarnya tidak nyaman, tapi berhasil dilewati dengan cara yang tidak biasa.

“Bos kamu percaya banget lagi,” kata Maya sambil menggeleng.

Ali mengangguk. “Pak, ini langganan saya.”

“Langganan sejak ijab kabul,” sahut Maya.

Tawa itu pelan-pelan mereda. Digantikan oleh suasana yang hangat, tanpa perlu banyak kata.

“Bang,” kata Maya pelan, “tadi kamu kepikiran apa sih sampai manggil aku?”

Ali menyandarkan punggungnya, menarik napas, lalu menjawab pelan.

“Aku cuma mikir, daripada aku harus pura-pura nyaman sama orang lain, mending aku benar-benar nyaman sama orang sendiri.”

Maya tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis.

“Ya sudah,” katanya ringan, “berarti tarif aku naik mulai besok.”

Ali menggeleng sambil tertawa kecil. “Ini LC paling mahal, tapi paling aman.”

Lampu kamar tetap menyala terang. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Dan malam itu, di tengah dunia yang sempat memaksa mereka untuk jadi orang lain, Ali sadar satu hal sederhana.

Tidak semua peran itu melelahkan, kalau dijalani bersama orang yang tepat.

0Komentar

Ingin tahu informasi cuaca dan iklim yang menarik, berbasis data, dan mudah dipahami? Kunjungi climate4life dan temukan wawasan baru setiap minggunya!
Perubahan iklim makin nyata, tapi apakah kamu benar-benar memahaminya? Yuk, pelajari dampak dan faktanya secara mendalam di climate4life.
Cari ulasan ilmiah seputar atmosfer yang berdasarkan penelitian terbaru dan terpercaya? Temukan penjelasan sains iklim yang up to date di climate4life!
Artikel Meta Info

Sedang memuat...

Sedang memuat...

© Copyright - Jejak Hitam Putih
Berhasil Ditambahkan

Type above and press Enter to search.