Tahun 2018, saat gempa, tsunami, dan likuefaksi meluluhlantakkan Palu, keluarga kami melakukan satu hal yang menurut kami sudah tepat: mengungsi.
Hanya saja, kami baru sadar belakangan kalau cara kami mengungsi ternyata… terlalu “rapi” untuk disebut sebagai korban bencana.
Rumah orang tua kami dan adik-adik saya memang masih berdiri, tetapi kondisinya sudah jauh dari kata layak. Retakan di sana-sini membuat setiap getaran kecil terasa seperti ancaman serius. Keluarga akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di tenda darurat di luar rumah, tidur dengan setengah sadar, seolah tubuh sudah belajar untuk siaga kapan pun bumi kembali bergoyang.
Hanya saja, kami baru sadar belakangan kalau cara kami mengungsi ternyata… terlalu “rapi” untuk disebut sebagai korban bencana.
Cerita latarnya di sini Tugu Perdamaian Palu, Simbol Rekonsiliasi Sekaligus Tempat Evakuasi Tsunami
Beberapa hari setelah gempa mengguncang Palu, keluarga kami sampai pada keputusan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kami bayangkan: meninggalkan rumah, setidaknya untuk sementara waktu.
Bukan karena ingin pergi, tetapi karena bertahan terasa semakin sulit.
Air bersih mulai langka, listrik tidak kunjung menyala, dan bahan makanan perlahan berubah dari kebutuhan menjadi barang yang harus dipikirkan dua kali sebelum digunakan. Di atas semua itu, gempa susulan yang terus datang membuat rasa aman seperti sesuatu yang mahal. Rumah orang tua kami dan adik-adik saya memang masih berdiri, tetapi kondisinya sudah jauh dari kata layak. Retakan di sana-sini membuat setiap getaran kecil terasa seperti ancaman serius. Keluarga akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di tenda darurat di luar rumah, tidur dengan setengah sadar, seolah tubuh sudah belajar untuk siaga kapan pun bumi kembali bergoyang.
Dalam kondisi seperti itu, bertahan bukan lagi soal kuat atau tidak, tetapi soal seberapa lama kami sanggup hidup dalam ketidakpastian.
Makassar kemudian menjadi pilihan. Di sana ada keluarga, dan ada harapan bahwa hidup bisa kembali sedikit lebih normal. Orang tua dan keluarga adik-adik saya berangkat dalam rombongan yang sebenarnya cukup besar: tujuh orang dewasa dan sebelas anak-anak, menggunakan dua mobil dan dua motor.
Mobil dipenuhi bukan hanya oleh penumpang, tetapi juga oleh barang-barang yang sempat kami selamatkan, barang-barang yang dalam situasi seperti itu terasa memiliki nilai emosional lebih dari sekadar fungsi. Sisanya, termasuk beberapa anggota keluarga, harus menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor.
Perjalanan itu sendiri jauh dari kata mudah. Di dalam kota Palu, tidak ada satu pun pom bensin yang beroperasi, sehingga mereka memulai perjalanan dengan sisa bahan bakar yang bahkan tidak sampai dua liter. Keputusan untuk tetap berangkat dalam kondisi seperti itu, jika dipikirkan sekarang, terasa seperti campuran antara nekat dan pasrah.
Di luar kota, mereka memang menemukan beberapa penjual bensin eceran, tetapi mereka pun tidak bisa menjual dalam jumlah banyak karena harus berbagi dengan pengungsi lain yang bernasib sama. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi seperti itu; semua orang hanya berusaha bertahan dengan caranya masing-masing.
Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu hari akhirnya berubah menjadi tiga hari penuh. Mereka harus berkali-kali berhenti untuk mengantre bahan bakar, beristirahat karena anak-anak kelelahan, dan mencari tempat bermalam seadanya.
Di titik tertentu, rasa lelah itu tidak lagi hanya soal fisik, tetapi juga mental, karena perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga meninggalkan sebagian dari kehidupan yang selama ini keluarga kami kenal.
Sesampainya di Makassar, mereka ditampung di rumah seorang sepupu yang kebetulan sedang kosong. Rumah itu cukup besar dan terletak di kawasan elit, sehingga setidaknya mereka tidak perlu berdesakan dan bisa beristirahat dengan lebih layak.
Dalam kondisi sebagai pengungsi, segala sesuatu tetap terasa terbatas, tetapi bantuan dari keluarga cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah keterbatasan itu, kata “cukup” terasa memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Di saat yang bersamaan, saya mendapat kabar dari pimpinan di kantor bahwa mereka telah mengutus tim untuk menengok kondisi keluarga saya. Saat itu saya masih berada di Australia untuk mengikuti sebuah pelatihan, dan kabar tersebut jujur saja cukup menenangkan.
Ceritanya di sini: Mengikuti Kursus Singkat "Better Climate Services" Melalui Australia Awards Indonesia (AAI)
Setidaknya ada perhatian, ada kepedulian, dan ada harapan bahwa keluarga saya tidak sepenuhnya menghadapi situasi ini sendirian.
Setelah kembali dari Australia, saya langsung menuju Makassar untuk bertemu keluarga. Salah satu hal pertama yang saya tanyakan kepada ibu adalah apakah bantuan dari kantor sudah diterima. Ibu menjawab belum ada, dan jawaban itu membuat saya sedikit bertanya-tanya, karena sepengetahuan saya bantuan sudah mulai disalurkan ke beberapa pihak yang terdampak.
Tidak lama kemudian, tim yang diutus oleh pimpinan akhirnya datang dan menemui saya di tempat keluarga mengungsi. Ia masuk ke dalam rumah, melihat sekeliling dengan cukup lama, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya menyampaikan sesuatu yang terasa jujur, meskipun agak sulit dicerna di awal.
Ia meminta maaf dan menjelaskan bahwa ketika pertama kali diminta untuk mengecek kondisi keluarga saya, ia hanya sempat melintas di depan rumah tersebut. Melihat lokasi yang berada di kawasan elit, ia berasumsi bahwa rumah itu tidak mungkin ditempati oleh pengungsi, sehingga ia tidak melanjutkan pengecekan lebih jauh.
Dalam pikirannya saat itu, pengungsi tentu berada di tempat yang lebih sederhana, lebih sempit, dan mungkin lebih terlihat “membutuhkan bantuan.”
Cerita itu kemudian terasa semakin lengkap ketika ibu saya menambahkan pengalaman mereka selama tinggal di sana. Awalnya, para tetangga di kompleks tersebut juga mengira bahwa kami adalah penghuni baru.
Kehadiran dua mobil, banyaknya anggota keluarga, dan rumah yang relatif besar tidak memberikan kesan sebagai pengungsi. Tidak ada yang benar-benar menyadari kondisi kami sampai suatu hari ada mobil dari pemerintah daerah Sulawesi Tengah yang datang mengantarkan beberapa kardus mie instan.
Dari situlah pertanyaan mulai muncul, dan perlahan situasi kami mulai dipahami.
Menariknya, bantuan akhirnya tetap datang, tetapi bukan dari pihak yang sejak awal kami bayangkan. Justru para tetangga yang sebelumnya tidak tahu apa-apa mulai datang satu per satu, membawa makanan dan bantuan lain dengan cara yang sederhana namun tulus.
Ada sesuatu yang terasa ironis sekaligus hangat dalam kejadian itu, seolah bantuan memang selalu punya jalannya sendiri, meskipun tidak selalu dari arah yang kita harapkan.
Dari pengalaman tersebut, saya akhirnya menarik satu pelajaran yang sampai sekarang masih terasa relevan.
Meskipun jika diucapkan mungkin terdengar sedikit sarkas: kalau suatu hari terpaksa menjadi pengungsi, mungkin ada satu hal kecil yang perlu dipertimbangkan, jangan mengungsi ke kawasan elit, karena di sana, penderitaan kadang terlalu rapi untuk terlihat sebagai penderitaan.

0Komentar
Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍