Bude Tuti itu tipe orang yang selalu terlihat siap untuk apa saja. Bukan tipe yang panik ketika ada masalah, bukan juga yang suka mengeluh panjang lebar.
Bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah benar-benar ingin dibicarakan orang lain. Seperti kematian, Bude punya cara sendiri untuk menghadapinya: diam-diam dipersiapkan.
Bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah benar-benar ingin dibicarakan orang lain. Seperti kematian, Bude punya cara sendiri untuk menghadapinya: diam-diam dipersiapkan.
Sore itu, ketika nama Ririn muncul di layar ponsel saya, tidak ada firasat apa-apa. Hanya panggilan biasa, seperti puluhan panggilan sebelumnya. Suaranya juga sama, ringan, tidak terburu-buru, seperti orang yang hanya ingin memastikan sesuatu yang sederhana.
“Sibuk nggak?” tanyanya.
“Sibuk dikit. Kenapa?” saya menjawab sambil masih menatap layar laptop.
“Kita nyariin pesanan Bude Tuti yuk.”
Nada suaranya tetap datar. Tidak ada jeda dramatis, tidak ada penekanan apa pun.
“Pesanan apa?”
“Kain kafan.”
Kalimat itu menggantung sebentar di kepala saya. Bukan karena saya tidak paham maksudnya, tapi karena cara dia mengatakannya terlalu biasa.
Seperti menyebut daftar belanja mingguan. Seperti tidak ada beban di balik dua kata itu.
Saya akhirnya mengiyakan.
Menjelang sore, saya sudah sampai di depan rumah yang dulu pernah saya anggap rumah sendiri. Tidak banyak yang berubah dari bangunannya.
Cat temboknya mungkin sudah beberapa kali diperbarui, pagar depan sedikit berbeda, tapi suasananya masih sama. Tenang, dan entah kenapa selalu terasa akrab.
Dulu, saya tinggal di rumah itu sejak kelas dua SD. Diperlakukan seperti anak sendiri oleh Om Syahril dan Bude Tuti, dua orang yang tidak pernah punya anak kandung, tapi justru tidak pernah kehabisan kasih sayang untuk dibagikan.
Di dalam rumah itu juga ada Ririn, yang sebenarnya keponakan Bude, tapi bagi saya waktu itu, dan sampai sekarang, lebih terasa seperti kakak sendiri.
Dari dia saya belajar banyak hal kecil yang tidak pernah saya sadari pentingnya saat itu. Naik sepeda, misalnya.
Ririn yang berlari di belakang sambil memegang jok, lalu diam-diam melepaskan tangannya tanpa saya tahu. Saya baru sadar ketika sudah melaju sendiri dan panik setengah mati.
Atau waktu di sekolah, ketika ada anak yang mencoba membuli saya. Ririn berdiri di depan saya, tanpa banyak bicara. Hal-hal seperti itu tidak pernah dia ceritakan ulang, tapi entah kenapa selalu saya ingat.
Ririn sudah menunggu di depan rumah ketika saya datang. Dia tersenyum seperti biasa, seolah sore itu tidak ada yang berbeda.
Ardi sudah duduk di kursi depan mobil.
“Tumben, ikut juga,” saya menyapanya.
“Disuruh Bude. Katanya biar sekalian,” jawabnya singkat.
Ardi juga bagian dari keluarga itu, dengan cara yang hampir sama seperti saya. Bedanya, dia keponakan dari Om Syahril. Tapi dalam rumah itu, hubungan darah memang tidak pernah jadi ukuran utama.
Kami berangkat tanpa banyak rencana. Tidak ada yang benar-benar memimpin arah pembicaraan. Obrolan mengalir begitu saja, dari hal-hal sepele sampai nostalgia yang selalu muncul tanpa diundang.
Kami sempat tertawa membicarakan masa kecil, tentang sepeda tua yang dulu sering kami pakai bergantian, tentang PR yang lebih sering dikerjakan bareng daripada sendiri, dan tentang Bude yang selalu tahu kalau kami sedang berbohong, tapi memilih tidak langsung memarahi.
Di tengah obrolan itu, topik tentang kain kafan muncul begitu saja.
“Tahu nggak,” kata Ardi sambil menatap jalan, “Bude itu aneh ya. Masih sehat, udah nyiapin kain kafan.”
Ririn tersenyum kecil, lalu menoleh ke luar jendela.
“Bude itu bukan aneh,” katanya pelan. “Cuma nggak mau nyusahin orang nanti.”
Kalimat itu tidak dibahas lebih jauh. Tidak ada yang mencoba memperpanjang atau memperdalam. Kami membiarkannya lewat begitu saja, seperti angin sore yang masuk dari jendela mobil.
Toko yang kami tuju tidak terlalu besar. Letaknya di pinggir jalan, tidak mencolok, dan kalau tidak benar-benar mencari, mungkin akan terlewat begitu saja.
Di dalamnya, suasana terasa tenang. Tidak ramai, tidak juga sepi. Seperti tempat yang memang tidak ditujukan untuk dikunjungi dengan tergesa-gesa.
Ririn yang lebih banyak berinteraksi. Dia yang bertanya, dia yang memastikan, dia juga yang memilih. Sesekali dia menoleh ke arah saya, meminta persetujuan yang sebenarnya tidak terlalu saya pahami.
“Yang ini cukup ya?”
Saya mengangguk. Lebih karena percaya, bukan karena tahu.
Prosesnya tidak lama. Terlalu cepat, bahkan, untuk sesuatu yang seharusnya tidak pernah terasa biasa.
Ketika kami keluar dari toko, tidak ada yang benar-benar berubah. Jalanan masih sama, suara kendaraan masih sama, bahkan obrolan kami pun kembali ringan, seolah tidak ada yang baru saja kami beli.
Beberapa hari setelah itu, saya harus berangkat ke Australia untuk mengikuti training. Bulan puasa membuat suasana sedikit berbeda. Ritme harian berubah, dan jarak terasa lebih jauh dari biasanya.
Saya sempat berpikir untuk mampir ke rumah Bude sebelum berangkat. Duduk sebentar, mungkin minum teh, atau sekadar menyapa seperti dulu.
Tapi niat itu saya tunda.
Saya pikir, masih ada waktu.
Malam itu, di kamar hotel yang terasa terlalu sunyi, ponsel saya bergetar. Panggilan WhatsApp masuk. Dari nomor Bude Tuti.
Saya sempat menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada rasa aneh yang sulit dijelaskan. Karena biasanya, kalau ada kabar dari rumah itu, Ririn yang menelepon.
Saya akhirnya mengangkat.
“Ali…”
Suara itu langsung membuat saya duduk tegak. Ada sesuatu yang berbeda. Lebih berat. Lebih rapuh.
“Ririn kecelakaan…”
Kalimat itu datang tanpa pengantar.
Saya mencoba memahami, tapi kepala saya terasa lambat.
“Gimana kondisinya, Bude?” tanya saya, berusaha menjaga suara tetap tenang.
“Dia… tabrak motor… waktu nyebrang. Mau beli takjil di depan…”
Suara Bude Tuti terputus-putus. Di sela kalimatnya, ada tangis yang semakin sulit ditahan.
Saya menunggu, berharap ada kalimat berikutnya yang memperbaiki semuanya.
“Sekarang di rumah sakit?” saya bertanya lagi.
Tidak ada jawaban yang langsung. Hanya suara tangis yang semakin jelas.
Dan entah kenapa, saat itu saya tahu… tidak semua pertanyaan perlu dijawab untuk bisa dimengerti.
Setelah panggilan itu berakhir, kamar hotel terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Saya mencoba mengingat percakapan terakhir kami. Sore itu. Mobil. Tawa kecil.
Dan cara Ririn mengatakan hal-hal sederhana seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Termasuk ketika dia memilih kain kafan itu.
Untuk Bude Tuti.
Beberapa hari kemudian, saya baru benar-benar menyadari satu hal yang sejak awal sebenarnya sudah ada di depan mata.
Bahwa tidak semua persiapan itu benar-benar milik orang yang memintanya.
Dan tidak semua yang terlihat siap… adalah yang akan pergi lebih dulu.
Kain kafan itu tetap terpakai.
Hanya saja, bukan oleh orang yang kami kira.

0Komentar
Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍