Di depan rumah saya ada bengkel motor yang secara tidak resmi juga berfungsi sebagai pusat informasi warga.
Kalau mau tahu siapa beli motor baru, siapa jatuh di tikungan, sampai harga cabai minggu ini, cukup duduk lima belas menit di sana sambil pura-pura servis motor.
Pemiliknya Pak Rahman. Tangannya selalu hitam kena oli, tapi bajunya hampir selalu rapi. Saya curiga beliau punya stok kaos yang sama banyaknya dengan baut di bengkelnya.
Di samping bengkelnya ada kios sembako milik istrinya. Ukurannya kecil, tapi entah bagaimana selalu punya barang yang kita butuhkan tepat saat lupa beli di pasar.
Saya paling sering ke sana kalau stok dapur mendadak habis. Biasanya malam hari, saat istri di rumah sudah bilang kalimat yang paling ditakuti para suami:
“Besok pagi gak ada gula.”
Dan penyelamatnya selalu kios itu.
Yang paling khas tentu pisang kepoknya. Tidak selalu ada, tapi kalau muncul, pasti cepat habis.
“Dari kebun belakang,” kata istrinya suatu hari.
Saya sempat berpikir, pasangan ini hidupnya seperti paket lengkap. Bengkel jalan, kios jalan, kebun juga jalan. Multitalenta versi kampung.
Pagi suara mesin motor. Siang suara timbangan. Sore mereka kadang terlihat membawa hasil kebun sambil bercanda pelan.
Tidak pernah terlihat tergesa. Tidak pernah terlihat mengeluh.
Hidup mereka sederhana, tapi terasa stabil. Seperti motor tua yang mesinnya tidak kencang, tapi selalu sampai tujuan.
Sampai suatu hari kios itu tutup.
Awalnya saya kira libur. Mungkin ke rumah keluarga. Tapi beberapa hari kemudian tetap tutup.
Lalu kabar datang pelan.
Istrinya sakit.
Dan tidak lama kemudian, meninggal dunia.
Hari pemakaman ramai. Warga berdatangan, termasuk pelanggan bengkel yang biasanya cuma kenal lewat ganti oli.
Saat jenazah diturunkan, Pak Rahman tiba-tiba menangis keras.
Bukan menangis biasa. Tangis yang seperti menahan sesuatu terlalu lama lalu akhirnya kalah.
Beberapa orang mencoba menenangkan.
Seorang ustaz mendekat, menepuk bahunya.
“Ikhlaskan, Pak. Biar almarhumah tenang.”
Pak Rahman mengangguk, tapi tangisnya belum reda.
Lalu dari belakang ada bapak-bapak yang mungkin merasa suasana terlalu haru.
“Sudahlah, jangan cengeng. Nanti juga bisa nikah lagi.”
Ajaibnya, Pak Rahman langsung diam.
Tangisnya berhenti seketika.
Saya sempat berpikir, mungkin kalimat itu bukan menenangkan. Tapi terlalu mengejutkan untuk dilanjutkan tangisnya.
Hari-hari setelah itu terasa berbeda.
Bengkel tetap buka, tapi lebih sunyi. Tidak ada lagi suara dari kios sebelah. Rak sayur kosong. Timbangan tergantung tanpa dipakai.
Saya beberapa kali hampir reflex berjalan ke kios, lalu sadar pintunya tertutup.
Tidak ada lagi pisang kepok.
Dan entah kenapa, kehilangan kecil seperti itu justru terasa nyata.
Tiga bulan berlalu.
Suatu sore saya menerima undangan. Amplop sederhana, tulisan tangan di depannya.
Pak Rahman menikah lagi.
Saya sempat tersenyum kecil. Rupanya komentar bapak-bapak di pemakaman dulu bekerja lebih cepat dari perkiraan.
Akad nikah digelar sederhana di rumahnya. Kursi plastik berjajar rapi. Warga datang dengan ekspresi campur aduk antara bahagia dan penasaran.
Prosesi berjalan lancar.
Ijab kabul diucapkan sekali napas.
“Sah.”
Para saksi mengulang, “Sah.”
Beberapa orang mengangguk puas. Ada yang langsung menyiapkan kamera ponsel.
Lalu tiba-tiba Pak Rahman menangis.
Keras.
Semua orang kaget.
Penghulu berhenti. Tamu saling pandang.
“Kenapa, Pak?” seseorang bertanya.
Pak Rahman mengusap matanya, suaranya gemetar.
“Harusnya… sekarang istri saya sudah dua…”
Tidak ada yang tertawa.
Semua diam.
Dan saat itu saya baru paham, ada kesedihan yang tidak hilang meski hidup sudah berjalan lagi.
Menikah lagi bukan berarti mengganti.
Kadang hanya cara seseorang agar tetap bisa melanjutkan hari, tanpa benar-benar meninggalkan kemarin.
Di sudut halaman, kios kecil itu masih berdiri.
Pintunya terbuka sedikit.
Saya tiba-tiba teringat pisang kepok dari kebun mereka.
Ternyata yang paling sulit dilupakan bukan peristiwa besar, tapi kebiasaan kecil yang tiba-tiba berhenti ada

0Komentar
Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍