Sabtu pagi selalu punya cerita sendiri. Buat sebagian orang, ini waktunya bersih-bersih rumah atau nongkrong di kafe. Tapi buat saya, sabtu pagi adalah panggung utama untuk satu-satunya olahraga yang benar-benar saya nikmati: badminton.
Iya, saya tahu. Untuk usia saya sekarang, banyak artikel kesehatan yang bilang kalau badminton itu bukan olahraga yang paling ramah untuk persendian dan detak jantung. Tapi apa boleh buat. Badminton itu menyenangkan.
Ada sensasi menangkap ritme pukulan, ada tawa teman-teman, dan ada momen ketika saya merasa masih muda dua puluh tahun.
Nah, masalahnya dimulai ketika istri saya, dengan penuh perhatian yang agak mencurigakan, membelikan saya sebuah smartwatch.
Katanya biar saya bisa memantau detak jantung saat bermain.
Katanya lagi, biar saya “mainnya tetap happy tapi nggak nyusahin orang kalau pingsan.” Saya tertawa waktu dia bilang begitu, walaupun setengah dari hati saya tersinggung juga.
Akhirnya sabtu itu, saya pakai smartwatch pemberian istri. Rasanya keren. Lengkap dengan fitur monitoring, alarm kesehatan, dan catatan aktivitas.
Pokoknya lengkap untuk orang-orang yang merasa masih muda tapi sebenarnya sudah harus rajin cek tensi.
Set pertama, semuanya baik-baik saja. Detak jantung stabil.
Pukulan saya lumayan. Teman-teman juga tidak terlalu banyak menghina performa saya pagi itu.
Saya sempat berpikir, “Ah, ternyata saya masih aman. Istri saya yang terlalu khawatir.”
Lalu masuk ke set kedua.
Belum lima menit berjalan, tiba-tiba beep beep beep. Smartwatch saya bergetar dan berbunyi seperti alarm darurat kapal tenggelam. Detak jantung saya naik melewati batas aman.
Saya berhenti sebentar, tarik napas, sambil pura-pura melihat ke arah bola yang nyangkut di net padahal sebenarnya sedang nunggu alarmnya reda.
Main lagi sedikit, beep beep beep.
Lari ambil bola, beep beep beep.
Smash kecil, beep beep beep.
Lama-lama saya lebih fokus sama smartwatch daripada kok.
Teman-teman sempat bingung kenapa saya sering berhenti. Ada yang kira saya lagi latihan mindfulness. Ada juga yang bilang saya sok pakai teknologi canggih padahal mainnya masih tanggung.
Dan puncaknya, ketika alarm itu berbunyi lagi begitu saya baru mau servis, saya langsung angkat tangan dan bilang, “Guys, saya menyerah. Smartwatch saya nggak setuju saya main set kedua.”
Akhirnya, saya berhenti ... berhenti memakai smartwatch itu saat main badminton 😁😁😁.
Bukan karena tidak sayang kesehatan, tapi karena kalau setiap lima detik saya disuruh berhenti, ya lama-lama bukan olahraga lagi namanya.
Walaupun begitu, di rumah saya tetap memakainya. Minimal biar istri saya lihat kalau usaha menjaga kesehatan itu masih ada, walaupun tidak seratus persen patuh.
Dan mungkin, minggu depan saya akan coba pakai lagi. Mungkin.
Atau mungkin juga tidak.


0Komentar
Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍