Jejakbede.online - Berawal nonton di Flik TV film Sang Pemimpi yang merupakan sekuel Laskar Pelangi jadi terkenang pengalaman pertama kali merantau ke Jakarta.

Terus seminggu kemarin baca kegabutan mas Wisnu Tri yang sampe meriang saat ke Jakarta. Cerita ini makin bikin saya melow ke masa lalu hehe.

Judul blog ini halu yah karena pada saat itu saya masih sendiri, belum laku dan tentunya belum punya si buah hati. Psst sekalinya laku  di kemudian hari malah beda keyakinan 😁😁😁.

Dan pada tulisan kali ini tidak banyak dokumentasi pribadi yang relevan yah karena pada jaman itu kamera hanya milik golongan menengah atas. Saya sendiri sih bukan golongan yang berada di bawah garis kemiskinan. Tapi tepat di garisnya.

Saat pertama ke Jakarta dulu saya masih menemukan dan menikmati bis ini. Jadi udah kebayangkan seberapa tuanya sayah 🤣.
Bus patas jaman saya muda. Foto: https://lifestyle.okezone.com/read/2019/06/14/406/2066642/5-foto-bus-jadul-yang-bikin-rindu-jakarta-tempo-doeloe

Tekad ke Jakarta bulat karena saya ini melihat ibu kota yang cuman saya tahu dari tipi. Dan jalan ke sana terwujud karena saya keterima di sekolah kedinasan.
Ceritanya di sini: 4 Alasan Memilih Kuliah Pada Sekolah Kedinasan

Beda dengan cerita di Sang Pemimpi yang naik kapal barang, saya lebih beruntung bisa naik Kapal Pelni. Saya lupa saat itu naik kapal Kambuna apa Umsini. 

Kapalnya emang warna dan modelnya sama dan keduanya pernah saya tumpangi saat beberapa kali mudik Jakarta - Palu.
KM Umsini yang pernah melayani rute Palu - Jakarta. Gambar: http://port-of-arar.blogspot.com/2014/03/24-kapal-penumpang-pt.html

Lama perjalanan 4 hari dan 4 malam dari pelabuhan Pantoloan Palu hingga merapat di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Kapal ini untuk ukuran saya seperti hotel berjalan. Penumpang terbagi menjadi 5 "kasta", mulai dari ekonomi, kelas 4 hingga kelas 1.

Untuk yang ekonomi setiap penumpang mendapat satu ranjang dalam ruangan bersama yang besar yang bisa sampai puluhan ranjang. Makannya ngantri di pantri. Ramailah.

Tapi sebenarnya dengan jadi penumpang kelas ekonomi kita justru akan bakal banyak dapat teman. Karena selama beberapa hari kita akan bertemu banyak orang yang seruangan kamar dengan kita.

Untuk penumpang kelas 4 mendapat kamar yang diisi delapan orang. Kelas 3 berisi enam orang dan kelas 2 berisi 4 orang.

Yang paling elit kelas 1  yang hanya untuk dua orang dengan kamar yang dilengkapi kulkas dan kamar mandi sendiri. Harga tiketnya setara tiket pesawat. saat itu tidak ada tiket pesawat murah lo. Kalo sekarang sebanding dengan tiket Garuda.

Tiket mahal, malah bisa mudik lebaran pakai tiket gratis Garuda 

Untuk penumpang kelas, makannya di restoran kapal di mana kelas 4 dan kelas 3 restorannya jadi satu. Untuk kelas 2 dan kelas 1 juga digabung tersendiri. 

Pada jaman itu kapal Pelni adalah primadona karna belum ada maskapai murah yang menyediakan tiket pesawat yang terjangkau.

Saat itu sih asik-asik aja naik kapal sampai empat hari dan empat malam. Selama itu kita bisa kenal banyak orang yang sering bertemu di tempat makan atau juga ketika bersantai di anjungan kapal.

Hiburan? di dek atas terdapat bioskop untuk para penumpang yang ingin menghabiskan waktu dengan menonton film.

Hiburan lain numpang dengar lagu yang disetel penumpang yang membawa tape compo. Ada yang ingat tape jenis ini? 

Pada jaman itu untuk remaja seperti saya yang hit adalah lagu-lagu dari Dewa19, Sket, U Camp, Whizzkid, Bayou, Vodoo, Slank dan lainnya. Kalo ada yang tahu grup musik ini berarti kita seumuran bro.

Satu lagu yang bikin melow saat naik kapal ke Jakarta waktu itu adalah lagu dari Whizzkid "Jalan Panjang".

Cukup lama sudah kutinggal kan semua yang aku cinta
ayah ibu saudara yang jauh di sana
berbekal do'a yang ibu sematkan iring kepergianku
ku buang segala ragu yang coba usik tekad ku
Kenyataan kini yang kuhadapi hidup di kota besar
tak semudah apa yang aku bayangkan
walau begitu kutak menyerah hadapi semua itu
ku terjang halangan ku halau rintangan yang ada
kan ku raih cita cita
yang ku tanam dalam jiwa

Wuih setiap menjelang malam mau tidur selalu terbayang ortu yang mengantar ke pelabuhan kemudian melambaikan tangan hingga kapal kami tidak terlihat oleh mereka. 

Ortu tentu sangat was-was karena saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Mereka khawatir saya nyasar atau hilang. Hanya doalah yang jadi harapan.

Mungkin kalo sampe hilang ortu saya akan bikin pengumuman begini. 
Telah hilang seorang anak remaja dengan ciri-ciri kurus, rambut ikal dan membawa sendok. Jika ditemukan tolong sendoknya dikembalikan.

Demi keamanan selama di kapal, uang bekal dari ortu semuanya saya masukkan di celana pendek kemudian dikunci dengan peniti😊. Baru kemudian saya pake celana panjang. 

Hanya uang untuk kebutuhan-kebutuhan kecil selama 4 hari di kapal yang ada di dompet yang ada di celana panjang.  

Saya hanya membawa buku tabungan yang isinya hanya saldo minimal, karena ortu khawatir saya nanti kesulitan menarik uang via buku tabungan jika sudah di Jakarta. Dulu belum ada yang namanya ATM tapi entahlah mungkin untuk orang kaya mungkin sudah punya hehehe. 

Selama empat hari empat malam kapal menyinggahi beberapa kota. Ini menjadi hiburan tersendiri karena melihat kesibukan penumpang yang turun naik.

Saat berangkat dari Palu seingat saya pada malam hari dan besok paginya kapal sandar di pelabuhan Balikpapan. 

Dari sini saya ketemu beberapa teman seumuran yang juga mau ke Jakarta. Kami bertemu di kantin kapal saat beli cemilan. Belum ngerti yang namanya ngopi di kafe.

Pagi berikutnya kapal sandar di Makassar. Teman akrab saya yang sama-sama berangkat dari Palu turun di sini. Dia keterima di sekolah pelayaran di Barombong Sulawesi Selatan.

Sejak itu saya mulai merasa sepi. Karena teman akrab saya yang juga sekelas dari SMAN 1 Palu udah gak ada. Dia teman main ngeband dan juga saat ikut-ikutan jadi pecinta alam meski kami hanya sempat dua kali naik gunung yang ada di Palu.
Arsip bersama teman akrab saat belajar jadi anak band. Dia vokalisnya. Yang lain megang gitar, saya bagian megang listrik😁

Di kamar kapal tersisa penumpang lain yang berangkat dari Manado. Mereka adalah abang-abang yang udah lama kuliah di Jakarta.

Untungnya mereka ramah, banyak memberikan informasi tentang Jakarta. Sedikit memberikan gambaran kepada saya.  Cuman karena usia mereka udah terpaut agak jauh, hari-hari selama di kapal saya sering habiskan bersama teman-teman yang saya kenal yang dari Balikpapan tersebut.

Hari ketiga kapal tiba di Tanjung Perak Surabaya. Saya tiba berani turun berjalan-jalan di pelabuhan meski kapal sandar sampai lima jam. Jadinya cuman ngelihat keramaian orang yang turun naik kapal dari dek atas.

Saat itu film Titanic belum rilis, jadinya saya belum punya inspirasi nyari kenalan cewek di kapal 😁.  Dua tahun kemudian setelah ada film Titanic saya malah parno naik kapal.

Nah pagi keempat kapal sandar di Tanjung Priok Jakarta. Segera saya turun mengikuti rombongan anak-anak pramuka dari Palu yang ada kegiatan di Jakarta. Kebetulan salah satu guru pendamping mereka masih kerabat jauh ibu saya.

Hari itu saya diajak dulu ke tempat rombongan pramuka tersebut. Sorenya baru saya di antar ke kampus saya yang dulu di Prapatan Tugu Tani.

Jangan tanya deh gimana rasanya ngelihat gedung-gedung tinggi. Apalagi kampus saya dekat dengan area Monas. Sudah tentu tujuan pertama ya ke situ.

Tapi lama-lama bosan juga karena enam bulan pertama kami latihan dasar di area Monas tersebut. Jadi gak sakral lagi.
Satu momen saat latihan dasar di halaman Monas tahun 90an 

Satu hal yang menyenangkan teman-teman kuliah di sekolah kedinasan di Jakarta ini berasal seluruh Indonesia. Dan saat penempatan tugas kami disebar pula ke seluruh Indonesia. Ada yang beruntung bisa pulang kampung ada pula yang ke kota lain.

Nah apalagi yang saya lakukan saat pertama di Jakarta? Ke Atrium  Senen karena itu mal terdekat dari kampus. Selanjutnya ke Blok M meski saya agak kecewa, di film-film itu tempat gaul anak muda Jakarta kok cuman terminal 🤣.

Dulu di Jakarta ke mana-mana ya naik bis kota. Tarifnya kalo gak salah umum Rp.350 perak. Untuk pelajar dan mahasiswa Rp.100 perak. Harga seporsi nasi plus ayam sekitar seribu rupiah.

*********
Nah kalo jaman milenial seperti sekarang ada yang pertama kali mau ke Jakarta, berikut tipsnya.
  • Manfaatkan transportasi online untuk mencari alamat tertentu. Karena jika kita naik transportasi umum sedikit repot karena harus berpindah-pindah moda transportnya.
  • Jika sudah mulai hafal lokasi beralihlah ke transportasi umum, selain lebih murah kita juga sudah membantu mengurangi kemacetan.
  • Alokasikan waktu agak lebih karena trafik di Jakarta sangat padat dan hampir selalu macet.
  • Waspada, sebagaimana kota besar lainnya tingkat kejahatan juga tinggi seperti copet, jambret dan penipuan seperti hipnotis

*********

Baiklah, biar masih relevan dengan judul artikel ini saya lanjutkan ceritanya. Saat sudah nikah dan memiliki anak satu saya mendapat tugas belajar ke sebuah PTN di Depok. Tentunya ini peluang untuk masa depan kami.

Istri dan anak saya boyong dari Manado ikut ke Depok. Itulah menjadi pengalaman pertama mereka bisa menginjakkan kaki ke Jakarta karena ikut hijrah sementara ke Depok. 

Kuliah istri diselesaikan di Depok juga. Selama dua tahun tugas belajar, buah hati yang kedua kami lahir. 

Jadilah setelah dua tahun tugas belajar kami dapat dua ijazah dan buah hati juga jadi dua orang. Sekarang kami hidup nomaden dari satu kota ke kota yang lain.