JejakBede.online - Pusat Oleh-Oleh Bugis Street Singapura, Jejak Pelaut  Bugis Di Tanah Melayu.

Sejatinya saat sekolah hingga kuliah saya terjebak di jurusan Fisika, aslinya suka sejarah🤦‍♂️🤦‍♂️🤦‍♂️.

Saya suka sekali membaca hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan juga menonton film-film yang berlatar sejarah. Beberapa tulisan saya yang ada unsur sejarahnya ada di sini : 
Tulisan tentang  jejak pelaut Bugis dan kaitannya dengan Bugis Street Singapura ini terinspirasi dari obrolan saya beberapa waktu lalu dengan seorang dosen dari Makassar yang sedang magang di KBRI Australia.

    Baca juga yah: Jejak BeDe di Australia.

Saat itu Pak Dosen tersebut bercerita tentang informasi yang dia dapatkan tentang bukti kehadiran pelaut Bugis di Australia dan pertalian mereka dengan suku Aborigin.

Terdapat bukti bahwa sejak dulu kala ada pelaut Bugis yang berasimiliasi dengan penduduk asli Australia tersebut.

Dari laman GoodNews disebutkan interaksi antara orang Indonesia dengan orang Aborijin Australia telah ada jauh sebelum adanya pendatang dari Eropa.

Pelaut-pelaut ulung dari Makasar dan Bugis berlayar pantai utara Australia setiap tahun, diperkirakan sejak tahun 1720-an sampai 1906 untuk mencari ikan teripang.


Bugis Street Singapura

Saya jadi teringat dengan pusat oleh-oleh Bugis Street Singapura, surga cinderamata dan suvenir yang yang murah meriah di Singapura.

Penasaran juga apakah hanya sekedar nama atau memang ada kaitan dengan pelaut Bugis yang terkenal suka merantau tersebut.

Seperti kita tahu, Singapura adalah tujuan wisata ke luar negeri yang paling dekat dari negara kita. Bisa kita tempuh dengan perjalanan udara dan atau juga dengan sekedar kapal feri dari Batam.
Jejak lainnya : Menyusun Perencanaan Tugas Negara Di Aston Batam Hotel & Residence

Tentunya setiap wisatawan hampir pasti berujung di Bugis Street Singapura untuk mencari oleh-oleh buat kerabat. 

Perjalanan saya ke Singapura saat itu karena mendapat tugas untuk presentasi di sebuah acara tingkat Asean. Meski yang maju saya seorang, sejatinya ada tim besar di belakang saya yang menyiapkan semuanya.
Harapan saya sih para peserta dan expert dari negara-negara yang hadir bisa ngerti yang saya omongin wwkwk.

Jangan tanya apakah sempat jalan-jalan? Tentunya disempat-sempatkanlah, malam hari tentunya. Siang hari akan selalu full dengan materi-materi meeting.

Apalagi jika belum jadwal presentasi, malampun harus digunakan untuk perbaikan-perbaikan paparan.

Jalan-jalan utamanya yah mencari oleh-oleh untuk tim di Indonesia yang telah menyiapkan semuanya untuk saya. Jadilah saya ke Bugis Street Singapore tersebut.
Cerita lengkapnya di sini : Tugas Negara sambil Wisata di Singapura

Bugis Street merupakan tempat untuk berburu buah tangan murah saat berwisata di Singapore. Berbagai cindera mata tersedia di sini dengan harga terjangkau namun berkualitas.

Jika dibandingkan dengan yang pernah saya beli di Belanda, Turki dan Australia, kualitas cinderamata di Bugis Street Singapura jauh lebih baik pada item dengan harga yang sama.

Misalnya gantungan kunci, lebih tebal dan lebih besar dengan material yang lebih berkualitas.
Koridor utama Bugis Street Singapura


Saat ke Bugis Street Singapura, kami bersama teman  peserta dari  Thailand naik MRT dari Stasiun Orchard. Karena saat itu kami memang menginap di Hotel Concorde di jalan Orchard.

Perjalanan  sekali transit di Stasiun City Hall lalu berpindah perjalanan dengan naik MRT East West Line (garis hijau) hingga mencapai Stasiun MRT Bugis. 

Letak Stasiun MRT Bugis ada di bagian bawah Bugis Juction. Bugis Junction sendiri adalah sebuah mall besar di Singapura.

Bagi wisatawan kelas atas mungkin akan berbelanja di sini. Tidak untuk saya yang masih kelas kuli hehehe.

Kita harus naik ke atas kemudian ke luar dari Bugis Junction untuk mencapai area Bugis Street Singaura. Pada malam hari akan terlihat tulisan “Bugis Street” yang menyala terang seolah menyambut kita yang datang berkunjung. 

Di dalam kawasan Bugis Street, kita akan menemukan berbagai souvenir lucu khas Singapura seperti gantungan kunci, kaus, pulpen, magnet kulkas, dompet, tas  hingga  berbagai snack seperti coklat dan biskuit.

Oh iya, pada saat di Singapura tersebut, saya join kamar dengan seorang kawan dari Jambi yang juga bagian dari tim besar pendukung saya.

Karena join, maka kami dapat menghemat uang jalan. Hasilnya adalah oleh-oleh  dari Bugis Street Singapura untuk kolega kami pada dua kantor di daerah dan dua divisi di kantor pusat. Yah setara untuk 60an oranglah hehehe.

Untuk keluarga saya sendiri, dari  Bugis Street Singapura saya membelikan kaos dan topi untuk masing-masing anak saya.

Gantungan kunci dan magnet kulkas pastinya adalah hal wajib sebagai jejak sejarah bahwa pernah ke Singapura hehehe.


Jejak Bugis Di Singapura

Keberadaan Bugis Street Singapura erat kaitan dengan cerita pengembaraan pelaut Bugis dari Sulawesi. Sebagaimana pengembaraan mereka ke berbagai penjuru dunia.

Dalam buku The Bugis karya Christian Pelras, disebutkan pengembaraan pelaut Bugis lebih karena faktor politik internal di tanah Sulawesi Selatan.

Persaingan kerajaan-kerajaan yang ada di sana mengundang masuknya penjajah Belanda. Lebih lengkap baca di sini yah.

Pihak yang menang adalah yang bersekutu dengan Belanda dan yang kalah kemudian menyingkir keluar menjelajah berbagai tempat, termasuk hingga ke Singapura.
Perahu Pinisi yang digunakan pelaut Bugis. Sumber di sini

Persaingan negara penjajah Inggris dengan Belanda dalam melebarkan pengaruh, menyebabkan pelaut Bugis lebih condong kepada Inggris.

Tentunya karena pelaut bugis yang mengembara tidak suka kepada Belanda yang telah mencaplok tanah mereka.

Singkat cerita pendiri Singapura, Sir Stamford Raffles terkesan dengan masyarakat Bugis yang dijumpainya daerah Penang, Malaysia. utamanya kemampuan dagang masyarakat Bugis.

Sir Stamford Raffles kemudian mengajak masyarakat Bugis untuk bekerja sama melahirkan Singapura. Sumber dari sini.

Mengutip dari Wikia.org, disebutkan atas perlindungan Sir Stamford Raffles para pelaut Bugis dan kelaurganya diberi keleluasaan membangun kampung mereka di sepanjang Sungai Rochore.

Keberadaan pelaut Bugis membawa jaringan perdagangan yang mereka kuasai. Masyarakat Bugis dengan cepat membangun putaran roda ekonomi di Singapura. 

Tahun 1824 terdapat sekitar 1.851 Bugis di Singapura atau setara 10 persen populasi pulau itu.

Raffles dalam membangun pemukiman mengikuti pendekatan rasial untuk berbagai komunitas yang ada di Singapura. Pelaut Bugis dan keluarganya diberi tanah antara Kampong Glam dan Sungai Rochore yang berada di dekat tempat Stasiun MRT Lavender sekarang ini.

Tempat ini kemudian dikenal sebagai Kota Bugis atau Kampong Bugis (Bugis Town). Secara resmi nama "Bugis Town" muncul di peta Singapura sejak tahun 1825.

Saat ini di kawasan Bugis tersebut telah berdiri pusat perbelanjaan terkenal di Singapura seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street.

Terdapat juga masjid terbesar di Singapura, ‘Sultan Mosque". Masjid tersebut merupakan peninggalan pengusaha-pengusaha Bugis di jaman itu.

Begitulah sobat bloger, sedikit cerita  Pusat Oleh-Oleh Bugis Street Singapura dan Jejak Pelaut Bugis Di Tanah Melayu.

Saya sendiri jadinya bingung apa blog ini jadi blog jalan-jalan atau blog sejarah😁😁😁 . Salam hangat, selamat berakhir pekan yah.