Bagi yang sudah membaca cerita sebelumnya, "The Turkish Ice Cream Girl I Met Again After 10 Years", tentu masih ingat dengan Anik.
Perempuan asal Thailand yang ditemui Dani saat konferensi internasional di Istanbul sepuluh tahun lalu.
Pertemuan singkat yang seharusnya menjadi kenangan biasa, namun ternyata meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dari yang mereka bayangkan.
Cerita lengkapnya: The Turkish Ice Cream Girl I Met Again After 10 Years
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Jakarta. Sebuah pertemuan yang mengungkap bahwa waktu ternyata tidak selalu mampu menghapus perasaan yang pernah tumbuh.
Namun kisah itu belum benar-benar selesai.
Teman-teman Dani sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Anik. Mereka hanya melihat potongan-potongan kecil yang tersebar selama bertahun-tahun.
![]() |
| Anggap saja Anik |
Foto-foto saat konferensi di Turki. Komentar-komentar di Facebook yang terkadang terlalu hangat untuk disebut sekadar pertemanan biasa.
Ucapan ulang tahun yang selalu dibalas dengan antusias.
Dan sesekali video call yang membuat Dani tersenyum sendiri seperti orang yang baru saja menemukan promo tiket pesawat murah.
Bagi teman-temannya, terutama yang sudah mengenal Dani sejak lama, itu cukup aneh.
Dani bukan tipe orang yang mudah dekat dengan perempuan.
Apalagi perempuan dari negara lain.
Apalagi yang cantik.
Apalagi yang cantik, pintar, berpendidikan Eropa, dan terlihat nyaman berbicara di depan ratusan peserta konferensi internasional.
Singkatnya, menurut teman-teman Dani, peluang itu seharusnya tidak ada.
Tapi kenyataannya ada.
Dan itulah yang membuat mereka penasaran. Karena ada satu bagian yang selama ini belum pernah diceritakan.
Bagian yang justru lebih sering membuat teman-teman Dani tertawa dibanding ikut terbawa suasana haru.
Semua bermula dari Heru.
Sahabat yang mengenal Dani sejak masa kuliah. Orang yang mengetahui hampir seluruh kegagalan, kebodohan, dan keputusan-keputusan aneh yang pernah dibuat Dani dalam hidupnya.
Hubungan mereka sudah sampai pada tahap saling meminjam uang saat kepepet tanpa perlu banyak basa-basi.
Suatu siang, ketika keduanya sedang menikmati semangkuk bakso di sebuah warung dekat kantor, Heru mengangkat satu topik yang menurutnya sangat penting.
Topik yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Dani.
Awalnya terdengar seperti candaan.
Namun beberapa menit kemudian, percakapan itu berubah menjadi salah satu obrolan paling konyol yang pernah terjadi di antara mereka.
Dan semuanya berawal dari satu kalimat sederhana:
"Dan, hati-hati lo sama cewek Thailand."
Dani mengernyit.
"Lho, kenapa?"
Heru menurunkan suara. Seolah hendak membocorkan rahasia negara.
"Kan di sana terkenal cewek KW."
Dani hampir tertawa.
"Maksud lo apa?"
"Ya masa gak tau."
Heru melihat ke kanan dan kiri sebelum melanjutkan.
"Katanya banyak yang operasi."
Dani mulai paham arah pembicaraan ini.
"Cowok jadi cewek."
Kini giliran Dani yang tertawa. Bahkan beberapa pelanggan di meja sebelah ikut menoleh karena suaranya cukup keras.
"Heru..."
"Apa?"
"Lo kebanyakan baca internet."
"Gua serius."
"Serius apanya?"
"Gimana kalau ternyata..."
Heru tidak melanjutkan kalimatnya. Namun ekspresinya sudah cukup menjelaskan. Dani menggeleng sambil mengambil gelas es teh.
"Anik gak gitu."
Heru menyipitkan mata.
"Lo tau dari mana?"
Dani menjawab santai.
"Gua udah buktiin sendiri."
Dani mengernyit.
"Lho, kenapa?"
Heru menurunkan suara. Seolah hendak membocorkan rahasia negara.
"Kan di sana terkenal cewek KW."
Dani hampir tertawa.
"Maksud lo apa?"
"Ya masa gak tau."
Heru melihat ke kanan dan kiri sebelum melanjutkan.
"Katanya banyak yang operasi."
Dani mulai paham arah pembicaraan ini.
"Cowok jadi cewek."
Kini giliran Dani yang tertawa. Bahkan beberapa pelanggan di meja sebelah ikut menoleh karena suaranya cukup keras.
"Heru..."
"Apa?"
"Lo kebanyakan baca internet."
"Gua serius."
"Serius apanya?"
"Gimana kalau ternyata..."
Heru tidak melanjutkan kalimatnya. Namun ekspresinya sudah cukup menjelaskan. Dani menggeleng sambil mengambil gelas es teh.
"Anik gak gitu."
Heru menyipitkan mata.
"Lo tau dari mana?"
Dani menjawab santai.
"Gua udah buktiin sendiri."
Heru langsung menyandar ke kursinya. Matanya membelalak, sementara sendok yang sejak tadi dipegangnya menggantung di udara.
"Dan... gua gak tau harus salut sama keberanian lo atau takut sama cara berpikir lo."
Dani hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan sejak detik itu, bakso Heru mendadak kehilangan rasa karena pikirannya sudah pergi ke mana-mana.
"Dan... gua gak tau harus salut sama keberanian lo atau takut sama cara berpikir lo."
Dani hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan sejak detik itu, bakso Heru mendadak kehilangan rasa karena pikirannya sudah pergi ke mana-mana.


0Komentar
Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍