JejakBeDe.online - Usia pernikahan kami telah hampir 19 tahun kami jalani. Selama itu pula saya dan istri terjebak situasi beda keyakinan. Hmmm... baiknya teman-teman membaca secara teliti yah sebelum memberi komen atas postingan ini 🙌🙌🙌.


Pertemuan kami cukup unik. Berawal hanya bertukar foto atas bantuan seorang teman kantor. Si dia saat itu hanya menyampaikan jika memang serius saya diminta langsung melamar ke ortunya.

Saat melamar ke rumah ortunya, itulah pertemuan pertama kami. Ortu si dia juga gak tahu jika kami baru bertemu justru saat pelamaran tersebut.

Sudah tentu kami menyembunyikan bahwa kami beda keyakinan. Ortu si dia sih cukup welcome karena di mata mereka saya sudah punya pekerjaan tetap, jadi bisa menafkahi keluarga, meski banyak dukanya.
Ceritanya di sini: Suka duka PNS

Saat itu juga langsung ditentukan tanggal pernikahan. Hati saya tentu berbunga-bunga. Hanya lewat foto si dia mau menerima saya dan siap dilamar hingga siap menikah. Soal beda keyakinan, biarlah waktu yang akan menjawab.

19 tahun perjalanan pernikahan dengan beda keyakinan bukanlah hal yang mudah. Terlalu sensitif untuk dibahas. Kami mengikhlaskan ketetapan hati masing-masing.

Di luar persoalan pernikahan beda keyakinan, kami sebenarnya memiliki banyak hobi yang sama. Kami sama suka bermain badminton dan voli. Untuk kuliner juga kami memiliki selera yang sama, kecuali makanan ala luar. Lidah saya terlalu ndeso.
Beda keyakinan tapi hobi kami sama

Untuk anak-anak kami membebaskan, namun sepertinya semuanya  cenderung mengikuti keyakinan istri saya. Seperti kata saya sebelumya, terlalu sensitif.

Anak-anak kadang bertanya kepada ibunya kok bisa sih menikah meski beda keyakinan. Istri saya biasanya akan tertawa terbahak-bahak.

Soal beda keyakinan ini kami juga cenderung menutup rapat. Tidak banyak yang tahu. Meski sebenarnya teman-teman dan kerabat kami dapat menebak dan mereka cenderung mendorong keyakinan istri yang lebih benar.
Sampai saat ini saya yakin saya benar-benar ganteng. Sebaliknya istri saya tidak yakin. Inilah beda keyakinan yang belum menemukan titik kompromi.

Begitulah beda keyakinan saya dan istri. Baik anak-anak saya maupun lingkungan kami, lebih setuju pada pendirian istri saya. Saya mau apa? 

Sampai di sini saya yakin teman-teman blogger juga lebih percaya keyakinan istri saya daripada keyakinan saya. Hayo ngaku?